Ada satu hal yang membuat saya agak kesulitan dalam menjelaskan prinsip aliran dalam saluran tertutup (pipa) kepada mahasiswa, yaitu masalah kehilangan energi. Biasanya penjelasan akan lebih mudah dipahami apabila disertai ilustrasi yang lebih mudah untuk dimengerti. Mungkin analogi masalah tersebut dapat saya jelaskan dari fenomena umum, kecil, sederhana, dan bahkan sering kita alami sehari-hari, yaitu meminum air kemasan menggunakan sedotan.
Demonstrasi sederhana untuk memahami kehilangan energi dapat kita lakukan sebagai berikut.
- Ambil dua buah air minum kemasan, bisa berupa botol atau gelas (cup).
- Kemudian ambil dua buah sedotan yang memiliki diameter berbeda. Salah satu sedotan memiliki diameter yang lebih besar dibandingkan dengan sedotan lainnya.
- Ambil satu sedotan yang berdiameter lebih kecil, kemudian gunakan untuk minum dari salah satu air minum kemasan tadi. Habiskan.
- Selanjutnya sedotan yang kedua (berdiameter lebih besar) gunakan juga untuk meminum air kemasan lainnya. Habiskan.
- Rasakan perbedaannya.
Seharusnya kita akan merasakan lebih sulit menghabiskan air minum kemasan tersebut apabila menggunakan sedotan yang berdiameter lebih kecil. Sebaliknya, akan lebih mudah apabila menggunakan sedotan yang berdiameter lebih besar. Pada sedotan berdiameter kecil, kita memerlukan usaha yang lebih (hisapan yang lebih kuat) dibandingkan dengan apabila menggunakan sedotan yang berdiameter lebih besar. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena kehilangan energi yang terjadi selama air mengalir dalam sedotan. Kehilangan energi sangat dipengaruhi oleh diameter sedotan tadi.
Prinsip kehilangan energi akibat gesekan (friksi) dalam saluran pipa dapat dijelaskan pada persamaan Darcy-Weisbach berikut.

dimana:
hf = kehilangan energi
f = faktor gesekan, yang tergantung dari angka Reynolds, diameter, dan kekasaran pipa
L = panjang pipa
Q = debit aliran
D = diameter pipa
g = gaya gravitasi
Perhatikan bahwa kehilangan energi berbanding lurus dengan debit aliran (hf : Q^2), dan kehilangan energi berbanding terbalik dengan diameter pipa (hf : 1/D^5). Semakin besar debit aliran dalam pipa, semakin besar juga kehilangan energi. Semakin kecil diameter pipa, maka semakin besar kehilangan energi. Artinya, dengan debit aliran yang sama, dengan diameter pipa yang semakin kecil, kehilangan energi akan menjadi semakin besar. Pengaruh diameter tersebut sangat signifikan dimana kehilangan energi fungsi lima kalinya diameter pipa.
Jika nilai kehilangan energi tersebut kita masukkan ke dalam persamaan Bernoulli (lihat Prinsip Dasar Aliran Melalui Pipa) untuk sebuah pipa dengan dua penampang pada ujung-ujung pipa tersebut, maka persamaan energi (mengabaikan kehilangan energi sekunder) dapat ditulis sebagai berikut:
z1 + h1 + (V1^2/2g) = z2 + h2 + (V2^2/2g) + hf
z1 = elevasi titik 1
h1 = tinggi tekanan hidraulik di titik 1
v1 = kecepatan aliran di titik 1
z1 = elevasi titik 2
h2 = tinggi tekanan hidraulik di titik 2
v2 = kecepatan aliran di titik 2
Untuk kasus meminum air kemasan di atas, kita anggap bahwa titik 1 (hulu) merupakan penampang pipa di dalam air (kemasan). Sedangkan titik 2 (hilir) merupakan penampang pipa di dalam mulut. Air mengalir dari dalam kemasan ke mulut (hulu ke hilir).
Semakin besar kehilangan energi (hf), membuat tekanan hidraulik di titik 1 (h1) menjadi semakin besar pula. Tekanan tersebut dihasilkan oleh daya hisap yang diberikan oleh mulut. Semakin besar daya hidap, semakin besar pula tekanan hidraulik di titik 1. Oleh karena itu, agar air dapat mengalir dari kemasan ke mulut dengan lancar, maka dibutuhkan daya hisap yang cukup untuk memberikan tekanan dalam kemasan. Dengan demikian, apabila diameter sedotan terlalu kecil, maka dibutuhkan daya hidap yang lebih besar untuk menghasilkan tekanan yang lebih besar pula dibandingkan dengan apabila menggunakan diameter yang lebih besar.